Masyarakat desa kembali menunjukkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan melalui kegiatan gotong royong memasak atau yang biasa disebut “duduk aruh” dalam rangka acara selamatan perkawinan salah satu warga desa. Kegiatan ini menjadi tradisi turun-temurun yang masih terus dilestarikan sebagai bentuk kebersamaan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan ke lokasi acara dengan membawa peralatan dan bahan masakan yang diperlukan. Kaum ibu tampak sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk jamuan tamu, sementara para bapak membantu mendirikan tenda, menata tempat acara, serta mempersiapkan perlengkapan lainnya. Suasana penuh keakraban dan canda tawa terlihat selama kegiatan berlangsung.
Tradisi duduk aruh tidak hanya menjadi kegiatan memasak bersama, tetapi juga menjadi sarana memperkuat rasa persaudaraan dan semangat saling membantu di tengah masyarakat. Melalui kebersamaan tersebut, pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dan dapat diselesaikan dengan cepat.
Pemilik hajat menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh warga yang telah membantu secara sukarela dalam persiapan acara perkawinan. Menurutnya, tradisi gotong royong seperti ini merupakan warisan budaya yang sangat bernilai dan perlu terus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Dengan adanya kegiatan duduk aruh ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan budaya gotong royong tetap tumbuh di tengah masyarakat serta menjadi contoh positif bagi generasi muda untuk terus melestarikan adat dan tradisi desa.